perisainews.com – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh belakangan ini tidak hanya menyisakan kerusakan infrastruktur, tetapi juga ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi lingkungan yang belum pulih sepenuhnya, ditambah dengan kepadatan di posko pengungsian, menciptakan tantangan baru dalam menjaga stabilitas kesehatan para penyintas bencana. Mengingat risiko penularan penyakit yang meningkat, langkah preventif kini menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Respons Cepat Layanan Kesehatan di Posko Pengungsian
Menanggapi situasi darurat tersebut, Puskesmas Pante Raya mengambil langkah strategis dengan memperkuat layanan kesehatan di berbagai titik pengungsian. Langkah ini diambil guna memastikan masyarakat yang terdampak tetap mendapatkan akses medis meskipun dalam kondisi keterbatasan. Fokus utama petugas medis saat ini adalah melakukan skrining kesehatan secara menyeluruh guna memetakan potensi wabah penyakit yang sering muncul pasca banjir.
Petugas kesehatan menyadari bahwa perubahan pola aktivitas dan lingkungan yang lembap menjadi pemicu utama menurunnya imunitas warga. Oleh karena itu, kehadiran tenaga medis di tengah-tengah pengungsi dianggap sangat krusial untuk memberikan rasa aman dan penanganan medis yang cepat tanpa harus menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan pusat.
Strategi Pemantauan Rutin di Tengah Kendala Akses
Kepala Puskesmas Pante Raya, Gunawan Arianto, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengatur jadwal kunjungan tim medis secara berkala. Pengaturan ini didasarkan pada pertimbangan jarak dan kemudahan akses menuju lokasi pengungsian yang tersebar di beberapa titik. Meski akses ke beberapa wilayah masih sulit akibat sisa-sisa material longsor, Gunawan memastikan bahwa setiap posko tetap mendapatkan perhatian medis yang proporsional.
“Posko yang lokasinya dekat kami kunjungi setiap hari, sementara untuk posko yang jauh kami kunjungi dua hari sekali,” ujar Gunawan melalui keterangan resminya pada Sabtu (20/12/2025). Strategi jemput bola ini dilakukan agar tidak ada warga yang terabaikan, terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak yang paling mudah terpapar penyakit di lingkungan pengungsian.
Ratusan Kasus ISPA dan Hipertensi Mendominasi Data Medis
Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan di tiga titik pengungsian utama, tercatat ada sekitar 600 kasus keluhan kesehatan yang telah ditangani oleh tim medis. Dari jumlah tersebut, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan hipertensi menjadi dua jenis penyakit dengan prevalensi tertinggi. Tingginya angka ISPA diduga kuat berkaitan dengan kualitas udara dan kebersihan lingkungan di pengungsian, sementara hipertensi dipicu oleh faktor stres pascabencana serta perubahan pola konsumsi.
Data medis yang terkumpul ini menjadi landasan penting bagi Puskesmas Pante Raya untuk menentukan stok obat-obatan dan jenis suplemen yang dibutuhkan. Dengan mengetahui tren penyakit yang sedang berkembang, intervensi medis dapat dilakukan secara lebih akurat dan tepat sasaran, sehingga risiko komplikasi yang lebih berat dapat diminimalisir sedini mungkin.
Distribusi Vitamin dan Protokol Kebersihan di Pengungsian
Selain memberikan pengobatan kuratif, tenaga kesehatan juga aktif melakukan pendampingan melalui langkah-langkah preventif. Distribusi suplemen vitamin dilakukan secara masif untuk menjaga daya tahan tubuh para pengungsi agar tidak mudah jatuh sakit. Selain itu, pemberian masker menjadi prosedur tetap, terutama bagi pengungsi yang sudah mulai menunjukkan gejala batuk atau gangguan pernapasan lainnya untuk mencegah penularan di ruang publik pengungsian yang sempit.
Edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri juga terus disosialisasikan. Para pengungsi diingatkan untuk selalu mencuci tangan dan memastikan air yang dikonsumsi benar-benar bersih. Langkah-langkah kecil ini dinilai efektif untuk menekan angka penyakit diare dan gatal-gatal yang biasanya mulai muncul beberapa hari setelah banjir surut.
Transisi Aktivitas Warga dan Imbauan Kewaspadaan
Memasuki fase pemulihan, sebagian warga mulai terlihat kembali beraktivitas secara bertahap. Pada pagi hingga siang hari, banyak pengungsi yang kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa lumpur atau mengecek lahan perkebunan mereka. Namun, pada sore dan malam hari, mereka umumnya kembali ke posko karena kondisi rumah yang belum layak huni sepenuhnya atau adanya kekhawatiran akan longsor susulan jika hujan kembali turun.
Gunawan Arianto menekankan bahwa transisi aktivitas ini harus dibarengi dengan kewaspadaan tinggi terhadap kondisi fisik. Membersihkan sisa banjir merupakan pekerjaan yang melelahkan dan penuh risiko bakteri. Oleh karena itu, ia meminta masyarakat untuk tidak memaksakan diri dan segera melapor jika merasakan gejala tubuh yang tidak bugar.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan keluhan kesehatan sekecil apa pun. Jika merasa tidak sehat, segera datang ke posko atau puskesmas agar dapat ditangani lebih awal. Kami siap memberikan pelayanan kesehatan,” tutup Gunawan dengan tegas.
Pemerintah daerah berharap melalui penguatan layanan kesehatan di Puskesmas Pante Raya ini, dampak buruk dari bencana banjir Aceh dapat ditekan seminimal mungkin. Kolaborasi antara petugas kesehatan dan kedisiplinan warga dalam menjaga kebersihan menjadi kunci utama dalam melewati masa krisis pascabencana ini.












