Binkam  

Tingkatkan Perekonomian Ditengah Pandemi Covid-19, Kreativitas Pengrajin Tangan Batok Kelapa Jadi Sorotan Dalam Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19

perisainews.com – Ditengah pandemi Covid-19 yang menyebabkan lesunya perekonomian masyarakat, tidak mengurungkan semangat juang masyarakat Kabupaten Lombok Barat Secara umumnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Seperti yang terlihat Salah Satu pemilik kerajinan tangan dari Dusun Enjak Desa Bagik Polak Labuapi, Agus Syakban.

Banner Iklan Aruna

Kerajinan tangan mengolah rotan dan batok kelapa menjadi sarang burung ini menjadi barang kerajinan bernilai tinggi yang tembus hingga pasar Belanda.

Agus menuturkan bahwa pembuatan kerajinan tangan sarang burung yang terbuat dari bahan kelapa yang dikelolanya ini sanggup menghasilkan rata-rata sekitar 50 buah dalam sehari, Rabu (12/8).

“Bahan-bahannya sederhana, untuk kerajinan aksesoris menggunakan bahan baku buah rotan, sedangkan sarang burung menggunakan batok Kelapa,” ujarnya.

Batok Kelapa diperolehnya dari berbagai Daerah, diantarannya Wilayah Senggigi, Tanjung Lombok Utara, hingga Lombok Timur.

“Sehingga untuk bahan baku masih mudah didapatkan, produksinya tergantung pasar,” imbuhnya.

Agus juga mengatakan bahwa kerajinan tersebut di eksport ke luar negeri yaitu Belanda dalam kurun waktu setiap tiga bulan sekali.

“Dikirim setiap tiga bulan, yang dalam sekali eksport tembus di angka 1000 biji kerajinan tangan sarang burung dan aksesoris buah rotan,” imbuhnya.

Karena untuk Ekport, sehingga pengiriman dilakukan setelah barang kerajinannya terkumpul terlebih dahulu, hingga jumlahnya siap untuk dieksport.

“Pengiriman menunggu tiga bulan, hingga barang siap dieksport untuk mengimbangi biaya pengiriman,” terangnya.

Untuk omset tidak main-main, sekali eksport bisa tembus diangka Rp 100 juta, hingga mampu menggaji empat karyawan yang bekerja di Usaha Kerajinan Aksesosris Buah Rotan dan sarang Burung ini.

“Harga perbijinya sendiri masih terjangkau kok, dipatok Rp 4.000 per bijinya,” ucapnya.

Untuk kenyamanan Karyawannya, Agus mengaku menanggung makan siang dan memberi uang lembur bila sedang banyak pesanan.

“Kalau pesanan lagi ramai, bisa sampai lembur, sehingga kami bayarkan uang lembur untuk memenuhi target pesanan tersebut,” Tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.