Scroll untuk baca artikel
GlobalPolitik

Tiongkok Percepat Modernisasi Militer untuk Merebut Taiwan

×

Tiongkok Percepat Modernisasi Militer untuk Merebut Taiwan

Sebarkan artikel ini
Tiongkok Percepat Modernisasi Militer untuk Merebut Taiwan.
Tiongkok Percepat Modernisasi Militer untuk Merebut Taiwan. (REUTERSThomas Peter)

Perisainews.com – Tiongkok terus mempercepat modernisasi militer, dengan fokus utama pada pengembangan kemampuan untuk merebut Taiwan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi Amerika Serikat, yang merupakan sekutu dekat Taiwan, serta negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik.

Latar Belakang Konflik Tiongkok-Taiwan

Konflik antara Tiongkok dan Taiwan bermula sejak tahun 1949, ketika Partai Nasionalis Kuomintang (KMT) yang kalah dalam perang saudara melawan Partai Komunis Tiongkok (PKT) melarikan diri ke pulau Taiwan dan mendirikan pemerintahan sendiri di sana. PKT yang menguasai daratan Tiongkok tidak pernah mengakui kemerdekaan Taiwan dan menganggapnya sebagai bagian dari wilayahnya. Sejak saat itu, hubungan antara kedua belah pihak selalu tegang dan penuh konfrontasi. Tiongkok sering melakukan ancaman militer, politik, dan ekonomi terhadap Taiwan, sementara Taiwan berusaha mempertahankan status quo dan menjaga hubungan baik dengan negara-negara demokratis, terutama Amerika Serikat. Pada tahun 1992, kedua belah pihak mencapai sebuah konsensus yang dikenal sebagai “One China Policy”, yang menyatakan bahwa hanya ada satu Tiongkok di dunia dan Taiwan adalah bagian darinya. Namun, interpretasi tentang konsensus ini berbeda-beda. Tiongkok mengartikannya sebagai pengakuan atas klaim kedaulatannya atas Taiwan, sementara Taiwan mengartikannya sebagai pengakuan atas eksistensi faktualnya sebagai entitas politik yang terpisah.

Strategi Modernisasi Militer Tiongkok

Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, Tiongkok semakin agresif dalam mewujudkan ambisinya untuk menjadi kekuatan regional terkemuka dan kekuatan utama dunia. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mempercepat modernisasi militernya, baik dalam hal anggaran, personel, doktrin, organisasi, peralatan, maupun teknologi.

Menurut laporan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DOD) tahun 2021, upaya modernisasi militer Tiongkok bertujuan untuk mengembangkan kemampuan, antara lain:

  1. Mengatasi situasi dengan Taiwan secara militer
  2. Mencapai tingkat kendali atau dominasi yang lebih besar atas wilayah dekat laut Tiongkok, khususnya Laut Cina Selatan
  3. Membela jalur komunikasi laut komersial (SLOC) Tiongkok, khususnya yang menghubungkan Tiongkok dengan Teluk Persia
  4. Menggusur pengaruh Amerika di Pasifik Barat
  5. Menegaskan status Tiongkok sebagai kekuatan regional terkemuka dan kekuatan utama dunia

Modernisasi Militer Tiongkok

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, Tiongkok telah melakukan berbagai langkah strategis dalam modernisasi militernya. Beberapa di antaranya adalah:

  • Meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan. Pada tahun 2020, anggaran pertahanan Tiongkok mencapai 1.268 triliun yuan (sekitar Rp 2.800 triliun), naik 6,6 persen dari tahun sebelumnya. Anggaran ini menjadikan Tiongkok sebagai negara dengan pengeluaran militer terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
  • Meningkatkan jumlah dan kualitas personel militer. Pada tahun 2015, Presiden Xi Jinping mengumumkan rencana untuk mengurangi jumlah personel militer sebanyak 300 ribu orang, dari 2,3 juta menjadi 2 juta orang. Tujuannya adalah untuk membuat militer Tiongkok lebih ramping, efisien, dan profesional. Selain itu, Tiongkok juga berusaha meningkatkan kualitas personel militer dengan memberikan pelatihan, pendidikan, dan insentif yang lebih baik.
  • Meningkatkan efektivitas organisasi militer. Pada tahun 2016, Tiongkok melakukan reformasi organisasi militer yang besar-besaran, dengan mengubah struktur komando dari tujuh wilayah militer menjadi lima teater operasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan koordinasi dan integrasi antara berbagai cabang militer, seperti angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara, roket, dan pasukan pendukung. Selain itu, Tiongkok juga membentuk beberapa unit baru yang fokus pada bidang-bidang strategis, seperti cyber, ruang angkasa, dan operasi khusus.
  • Meningkatkan kapabilitas dan kesiapan peralatan militer. Tiongkok telah mengembangkan dan memproduksi berbagai jenis peralatan militer yang canggih dan modern, baik untuk keperluan pertahanan maupun proyeksi kekuatan.
Baca Juga:  Athari: Mari Sambut Tahun 2024 Dengan Harmoni dan Riang Gembira

Beberapa contoh peralatan militer yang dimiliki oleh Tiongkok adalah:

  • Pesawat tempur siluman J-20 dan J-31, yang mampu menghindari deteksi radar musuh dan melakukan serangan udara jarak jauh.
  • Kapal induk Liaoning dan Shandong, yang merupakan simbol kekuatan maritim Tiongkok dan platform untuk meluncurkan pesawat tempur berbasis laut.
  • Kapal selam nuklir Type 094 dan Type 096, yang mampu membawa rudal balistik nuklir jarak jauh (SLBM) dan menimbulkan ancaman bagi keamanan regional dan global.
  • Rudal jelajah dan rudal balistik anti-kapal (ASBM), seperti DF-21D dan DF-26, yang mampu menjangkau target di Laut Cina Selatan dan Pasifik Barat dengan akurasi tinggi.
  • Sistem pertahanan udara dan rudal anti-satelit (ASAT), seperti HQ-9 dan SC-19, yang mampu melindungi wilayah udara Tiongkok dari serangan musuh dan mengganggu atau menghancurkan satelit musuh di orbit bumi rendah.
Baca Juga:  Logistik WSBK Mandalika 2023, MGPA Teken Kerjasama dengan AP Logistik

Impor Senjata Tiongkok

Selain mengembangkan peralatan militer sendiri, Tiongkok juga melakukan impor dari negara-negara lain, terutama Rusia. Beberapa contoh peralatan militer yang diimpor oleh Tiongkok adalah:

  • Pesawat tempur Su-27, Su-30, dan Su-35, yang merupakan pesawat tempur generasi keempat yang tangguh dan bermanuver.
  • Sistem pertahanan udara S-300 dan S-400, yang merupakan sistem pertahanan udara tercanggih di dunia yang mampu menembak jatuh pesawat tempur siluman, rudal jelajah, dan rudal balistik.
  • Kapal selam Kilo-class dan Lada-class, yang merupakan kapal selam diesel-elektrik yang senyap dan berdaya jelajah tinggi.